Sabtu, 08 Januari 2011

Komunikasi Antar Pribadi

1). Indikator Kualitas Komunikasi Antar Pribadi:
A. Keterbukaan (openness): kualitas ini mengacu pada kurang lebih 3 aspek dari komunikasi antar pribadi.
a). Komunikator antar pribadi yang efektif harus terbuka kepada orang yang diajak berinteraksi. Berarti harus arus ada kesediaan untuk membuka diri.
b). Kesediaan komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang
c). Kepemilikkan perasaan dan pikiran, yakni mengakui bahwa perasaan dan pikiran yang kita lontarkan adalah benar “milik” kita dan kita bertanggungjawab atasnya.
B. Empati, yaitu kemampuan seseorang untuk merasakkan apa yang sedang dirasakkan orang lain dalam suatu keadaan tertentu, dari sudut pandang yang sama dan melalui kaca mata yang sama dengan orang lain tersebut.
C. Sikap mendukung, dapat diperlihatkan antara lain dengan bersikap:
a). Deskriptif dan bukan evaluatif: bila kita memepersepsikan komunikasi sebagai permintaan akan informasi atau uraian mengenai suatu kejadian tertentu, kita umumnya tidak akan merasakan itu sebagai ancaman. Sebaliknya, komunikasi yang bernada menilai seringkali membuat kita bersikap defensif.
b). Spontanitas dan bukan strategik: gaya spontan membantu menciptakan suasana mendukung, sebaliknya bila kita merasa seseorang menyembunyikkan perasaannya kita akan beranggapan bahwa ia memiliki strategi tersembunyi dan kita akan bereaksi secara defensif
c). Provisionalisme dan bukan sangat yakin: yakni bersikap tentatif dan berpikiran terbuka serta bersedia mendengar pandangan yang berlawanan dan bersedia mengubah posisi jika keadaan mengharuskan.
d).sikap positif: yakni dengan menyatakan sikap positif dan mendorong orang yang menjadi teman kita berinteraksi secara positif
C. Kesetaraan (equality): disini harus ada pengakuan secara diam- diam bahwa kedua pihak yang berinteraksi sama- sama bernilai dan berharga, dan bahwa masing- masing pihak mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan.



2). Relevasnsi antara kepercayaan dengan kualitas komunikasi antar pribadi:
Kepercayaan (trust) menjadi faktor yang sangat penting dalam pengembangan kualitas komunikasi antar pribadi. Hal ini dikarenakan KAP berkembang melalui berbagai tahapan, mulai dari tahapan awal seperti proses pengungkapan diri (self-disclosure), tahapan membuat keputusan untuk melanjutkan atau tidaknya komunikasi tersebut, sampai kepada tahapan paling intim dimana masing- masing pihak sudah tidak ragu lagi untuk melakukan pembukaan diri secara lebih mendalam, yakni dengan membuka batas zona pribadinya dan diungkapkan kepada orang lain. Semua tahapan itu memerlukan suatu kepercayaan dari masing- masing pihak yang terlibat dalam komunikasi. Semakin intim tahapan yang telah dicapai, maka dapat dipastikan bahwa nilai kepercayaan yang terkandung di dalamnya juga semakin besar dan kualitas komunikasi antar pribadi juga semakin tinggi.


3). Karakteristik perilaku suportif yang khas dalam relasi pernikahan beda bangsa beda budaya:
- saling beradaptasi: pasangan beda bangsa dan beda budaya harus berupaya lebih keras untuk saling beradaptasi dengan baik agar komunikasi mereka dapat berjalan efektif
- kesediaan untuk saling memahami dan menerima perbedaan: pasangan beda bangsa beda budaya harus memberikan kesediaan untuk saling memahami berbagai perbedaan diantara mereka yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman akibat banyaknya perbedaan nilai- nilai budaya.
- kesetaraan: pasangan beda bangsa tersebut harus menciptakan kesetaraan di antara mereka berdua agar tidak ada pihak yang merasa nilai- nilai kebudayaannya yang paling benar sementara yang lainnya tidak sesuai.
-provisionalisme: pasangan beda bangsa ini harus tetap berpikiran terbuka terhadap segala perbedaan yang ada diantara keduanya. Sikap provisional ini berarti siap mengubah pendapat pribadi bila memang hal tersebut perlu dilakukan, sehingga kesetaraan mudah dicapai untuk memdukung penciptaan suasana yang suportif.


4). Indikasi kontekstual dalam komunikasi antar pribadi:
Indikasi kontekstual di sini termasuk di dalamnya konteks fisik/ ruang, waktu, sosial dan psikologis.
Contohnya:
- ruang: tertawa terbahak- bahak atau memakai pakaian dengan warna menyala seperti merah, sebagai perilaku nonverbal yang wajar dalam suatu pesta, namun menjadi kurang beretika bila hal tersebut ditampakkan dalam acara pemakaman.
-waktu: dering telepon di tengah malam atau dini hari akan dipersepsikan lain bila dibandingkan dengan dering telepon pada siang hari.
-sosial: pada hari lebaran, keluarga yang sehari- harinya dingin kepada tetangga boleh jadi akan bersikap tersenyum dan ramah, serta membiarkan pintu rumahnya terbuka lebar dan mempersilakan para tamunya untuk mencicipi aneka kue dan hidangan yang tersedia
- psikologis: keluhan seorang istri terhadap naiknya harga kebutuhan pokok dan kurangnya uang belanja kepada suaminya mungkin akan ditanggapi berang apabila sang suami dalam keadaan lelah sehabis pulang kerja.


5). Kekuatan haptic dalam pengembangan hubungan pacaran:
Dalam konteks romantic relationship, haptic atau sentuhan dalam berkomunikasi dapat menyampaikan pesan tertentu pada lawan komunikasi, yang dalam hal ini adalah kekasih atau pacar kita. Sentuhan di sini dapat berfungsi sebagai afeksi positif dimana dapat menkomunikasikan emosi positif secara nonverbal. Sentuhan merupakan sistem isyarat yang ampuh dan erat kaitannya dengan perasaan emosional diantara dua individu yang saling berkomunikasi. Semakin intim tahap hubungan, makan sentuhan juga akan ikut berkembang. Dalam relasi pacaran, sentuhan- sentuhan tersebut dapat dilakukan dengan berpegangan tangan, membelai, merangkul, mencium kening, dan sebagainya yang dapat mengisyaratkan perasaan sayang, perhatian dan rasa ingin melindungi terhadap pasangannya.


6). Indikator utama (elemen) teori kebutuhan etnografi:
Teori kebutuhan etnografi menunjukkan bahwa kekuatan- kekuatan dasar yang menentukkan perilaku manusia yaitu untuk merasa aman, untuk melindungi orang yang hidup (teritorialitas), mencari kesenangan, dan menjamin kelangsungan hidup spesies.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar