Sabtu, 09 Januari 2010

Kartini dan Wajah Sendu Perempuan Indonesia

Tentunya kita nggak pernah lupa kan apa yang diperingati setiap tanggal 21 April? Yaph!!! Kartini’s day atau Hari Kartini. Dan siapa pula yang masih nggak tahu kalau tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan tanggal kelahiran pahlawan nasional yang gigih memperjuangkan harkat dan martabat perempuan indonesia atau istilahnya adalah emansipasi wanita. Lantas apa yang telah kita lakukan untuk memaknai dan menghargai jasa- jasa beliau? Mungkin ketika kalian duduk di bangku Taman Kanak- kanak atau Sekolah dasar, hal tersebut ditunjukan dengan berbagai bentuk perayaan, seperti berbagai macam lomba sampai karnaval pakaian daerah,masih ingat kan? Namun sebagai pelajar dengan status maha-nya siswa atau mahasiswa, tentunya kita memaknai Hari Kartini dengan cara yang berbeda, bukan lagi dengan kegiatan- kegiatan yang penuh dengan kesenangan seperti itu. Sebagai sseeorang yang telah duduk di bangku perguruan tinggi, sudah seharusnya kita ikut memikirkan nasib perempuan indonesia saat ini, karena kenyataan yang sebenarnya tidak semanis istilah emansipasi wanita yang telah digaung- gaungkan banyak orang. Tahukah kalian bahwa di negara kita ini, ratusan ribu lebih perempuan menjalani hidup yang jauh dari istilah “peningkatan harkat dan martabat”..? Apakah disebut emansipasi apabila saat ini masih banyak perempuan Indonesia yang menjadi pekerja kasar dengan upah yang amat sangat tidak masuk di akal, sama sekali tidak sebanding dengan tenaga yang telah mereka keluarkan. Apakah disebut emansipasi jika sekarang perdagangan wanita di negara ini sudah semakin merajalela, tanpa mengenal perikemanusiaan perempuan-perempuan indonesia dirayu, dijebak, lantas diperjualbelikan untuk kemudian dijadikan budak atau pekerja seks komersial di negeri orang. Tentu saja pihak- pihak yang bersangkutan meraup keuntungan yang sebesar- besarnya di atas penderitaan dan siksaan yang dialami perempuan- perempuan Indonesia. Lalu apakah disebut emansipasi dengan makin menjamurnya kasus tenaga kerja wanita kita di negara tetangga yang mengalami penyiksaan secara fisik dan mental, mulai dari tidak dibayarkannya gaji mereka, pelecehan dan pemerkosaan yang dilakukan oleh majikannya, sampai pada bentuk- bentuk penganiayaan berat yang berujung pada kematian. Dan apakah disebut emansipasi jika jutaan perempuan di Indonesia mengalami berbagai bentuk kekerasan dan penganiayaan, khususnya dalam rumah tangga. Dengan segala kenyataan yang ada dalam kehidupan sehari- hari kita saat ini, sudah sepatutnya lah kita ikut merenungkan nasib perempuan Indonesia. Walaupun kita harus berbesar hati pula bahwa saat ini sudah banyak wanita- wanita indonesia yang berprestasi dan sukses dalam kariernya sampai ke tingkat internasional. Namun mereka hanya segelintir, fakta di lapangan menunjukkan bahwa jumlah wanita yang belum menikmati emansipasi dan penghormatan terhadap hak-hak asasinya jauh lebih banyak. Mungkin dengan meningkatkan sikap kritis kita pada Pemerimntah dan respon positif dari pemerintahnya pula, nasib wanita di Indonesia akan menjadi lebih baik. Alon- alon asal klakon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar